Saturday, July 18, 2009

aksi teror bom

Sembilan Korban Bom JW Marriott Dirawat Intensif
KIRIM EMAIL KE TEMAN
Informasikan ke teman-teman Anda mengenai berita di bawah melalui email.
Nama Anda
Alamat Email Anda

Kirim Ke
Nama
Email



kirim copy ke email saya


KOMENTAR PEMBACA
Berikan komentar Anda untuk berita di bawah.
Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
Nama Anda
:
Email Anda
:
Komentar
:
KapanLagi.com berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan

KOMENTAR FANS
Anda fans ? Berikan komentar Anda. Komentar akan ditampilkan di halaman biografi , diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
Nama Anda
:
Email Anda
:
Pesan
:
KapanLagi.com berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan

NEWSLETTER KAPANLAGI.COM

Dapatkan berita terbaru di email Anda setiap hari.

Nama:
Email:


Kategori berita yang diinginkan:

Selebriti
Film
Musik
Televisi
Hollywood
Bollywood
Asian Star
Sinetron
Bola Internasional
Bola Nasional
Seleb-OR
Olahraga Lain-lain
Hukum-Kriminal
Kasus Narkoba
Politik Nasional
Politik Internasional
Ekonomi Nasional
Ekonomi Internasional


Jum'at, 17 Juli 2009 09:00
Lihat Biografi
Ilustrasi
BERI KOMENTAR CETAK BERITA INI KIRIM KE TEMAN DISKUSIKAN DI MILIS Hanya Untuk Penggemar Berat JACKO!
Kapanlagi.com - Ledakan terjadi di dua hotel yang terdapat di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, sekitar pukul 07:45 WIB, sembilan korban dibawa ke Rumah Sakit MMC yang terletak di dekat lokasi ledakan dan diberikan perawatan intensif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di Jakarta, Jumat (17/07) pagi, bagian depan Hotel Ritz-Carlton hancur tepatnya di restoran yang terletak di lantai dua.

Sedangkan hal yang sama juga terjadi di Hotel JW Marriott, yaitu di bagian lobi hotel yang terdapat di lantai dasar.

Ledakan terjadi pada sekitar pukul 07.45 WIB, yang pertama terjadi di Hotel JW Marriott, kemudian terjadi di Hotel Ritz-Carlton.

Terdapat sembilan korban dirawat di rumah sakit, di antaranya Sidik Maulana - 21 tahun, pegawai Ritz Carlton; Ario- 30 tahun, Ritz Carlton; Edward S - pegawai JW Marriott; David Peter; Deni Purwanto - pegawai JW Marriott; Adry, 30 tahun; Ahmad Taufiq -30 tahun; Dewi Lestari - 22 tahun, pegawai Panin Bank, Ririn, 25 tahun. (kpl/bee)

bom JW MARRIOT

JAKARTA. Ledakan yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton memakan korban 9 orang. Menko Polkam Widodo AS yang bertandang ke hotel JW Marriot, Mega Kuningan mengatakan, bom meledak dan memiliki daya ledakan yang tinggi. "Ini jenisnya high explosive," ujar Widodo AS.

Ia melanjutkan, ke-9 korban yang tewas itu berada di dua lokasi yang berbeda. Sebanyak 6 korban tewas di JW Marriot, sedangkan 2 orang lainnya tewas di Ritz Carlton. Sedangkan satu orang meninggal sudah dibawa ke RS Medistra. Di antara ke-9 korban itu, Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB), Timothy Mackay ikut menjadi korban dan tewas akibat bom tersebut. Menurut salah public relations SMCB, Tim berada di JW Marriot untuk melakukan breakfast meeting.

Dari pantauan KONTAN, akses masuk kawasan Mega Kuningan ditutup total. Pihak Kepolisian menjaga ketat seluruh pintu masuk ke kawasan tersebut dan hanya membuka akses untuk ambulan dan karyawan di sekitar lokasi tersebut.

Menurut Widodo, ledakan tersebut terjadi sebanyak dua kali. Pertama, terjadi di lobi hotel JW Marriot pukul 07.45 WIB dan di Ritz Carlton pukul 07.47 WIB.

dream

Terius Youngdell Nash alias The-Dream adalah seorang penyanyi rap Amerika Serikat. Ia lahir di Rockingham, North Carolina dan pindah ke Atlanta dalam usia 3 tahun. Ketika kecil ia belajar trompet, drum, dan gitar. Ia bertemu dengan produser rekaman Laney Stewart pada tahun 2001. Stewart membantu Nash untuk mendapatkan kontrak penerbitan lagunya "Everything" yang kemudian direkam oleh B2K dalam album Pandemonium!. Pada tahun 2007, ia menandatangani kontrak rekaman dengan Def Jam Records dan menerbitkan album perdana

Sunday, July 5, 2009

askep

Preeklamsi

Pengertian
Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema.

Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan.

Insiden
Di Indonesia, setelah perdarahan dan infeksi pre eklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu, dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Oleh karena itu diagnosis dini preeklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia, serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak.

Patofisiologi
Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri, Jilid I, Halaman 199).

Manifestasi klinik
Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala – gejala subyektif. Pada pre eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah. Gejala – gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul.

Tes Diagnostik
Tes diagnostik dasar
Pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri, pemeriksaan funduskopik.
Tes laboratorium dasar
Evaluasi hematologik (hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi).
Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase, dan sebagainya).
Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin).
Uji untuk meramalkan hipertensi
Roll Over test
Pemberian infus angiotensin II.

Penanganan medik
Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai tanda – tanda sedini mungkin (pre eklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklampsia.
Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.
Penanganan
Tujuan utama penanganan adalah :
Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi.
Hendaknya janin lahir hidup.
Trauma pada janin seminimal mungkin.

Seksio sesarea

Pengertian
Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Ilmu Kebidanan, edisi ketiga, Halaman 863).
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Sinopsis Obstetri Jilid 2, Halaman 133).
Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Ilmu Kebidanan, Edisi ketiga, Hal 133).

Etiologi
Penyebab dilakukannya seksio sesarea adalah :
Plasenta previa
Gawat janin
Disproporsi sefalo-pelvik (ketidakseimbangan kepala dan panggul).
Pernah seksio sesarea.
Kelainan letak.
Pre eklampsia dan hipertensi
Incoordination uteri action (tidak ada kerjasama yang teratur antara fungsi alat kandungan).

Insiden
Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi, anastesi, penyediaan cairan dan darah, indikasi dan antibiotika, angka ini sangat menurun. Angka kematian ibu pada rumah – rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. Menurut data dari negara – negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna, angka kematian perinatal sekitar 4 – 7 %.

Jenis – jenis seksio sesarea
Seksio sesarea klasik (korporal)
Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira – kira sepanjang 10 cm.

Seksio sesarea ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.

Komplikasi seksio sesarea
Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dsb.
Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru, dan sebagainya sangat jarang terjadi.
Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik.

Anatomi fisiologi sistem reproduksi
Genitalia eksterna
Mons veneris/pubis
Bagian yang menonjol diatas simfisis dan terdiri dari jaringan lemak.
Labia mayora
Berbentuk lonjong dan menonjol, terdiri dari jaringan lemak. Kebawah dan kebelakang kedua labia mayora bertemu membentuk kommisura posterior.
Labia minora
Lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia mayora. Kedepan kedua labia minora membentuk preputium klitoris. Kebelakang membentuk fossa navikulare.
Klitoris
Tertutup oleh preputium klitoris, sebesar kacang ijo terdiri dari serabut saraf dan pembuluh darah, analog dengan penis laki – laki.
Vulva
Bentuk lonjong dibatasi di depan oleh klitoris, kanan kiri oleh labia minora, di belakang oleh perineum. Terdapat orificium urethra eksterna. Ostia kelenjar skene yang analog dengan kelenjar prostat pada laki – laki, dan kelenjar vestibularis bartolini yang mengeluarkan getah lendir pada waktu coitus.
2.6.1.1.Hymen
Berupa lapisan tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina. Bentuknya berbeda-beda dari bulan sabit sampai berlubang – lubang.

Genitalia interna
Vagina
Suatu saluran muskulo membranosa yang menghubung-kan uterus dan vulva terletak antara kandung kencing dan rektum. Dindingnya berlipat-lipat disebut rugae, tidak terdapat kelenjar.
Uterus
Berbentuk seperti buah advokat, sebesar telur ayam. Terdiri dari fundus uteri, korpus uteri dan serviks uteri. Korpus uteri merupakan bagian uterus terbesar dan sebagai tempat janin berkembang. Isthmus adalah bagian uterus antara serviks dan korpus, yang menjadi segmen bawah rahim pada kehamilan.
Tuba fallopi
Berjalan ke arah lateral, mulai dari kornu uteri kanan dan kiri. Terdiri dari 4 bagian : 1) pars interstitialis, bagian dalam dinding uterus, 2) pars ismika, bagian tengah tuba yang sempit, 3) pars ampularis, bagian yang terlebar dan sebagai tempat konsepsi terjadi, 4) infundibulum, bagian ujung tuba dan mempunyai fimbria. Tuba fallopi berfungsi membawa ovum ke kavum uteri.
Ovarium
Ada 2, kiri dan kanan. Terdiri dari bagian luar (korteks) yang mengandung folikel-folikel dan bagian dalam (medulla) yang berisi pembuluh darah, serabut saraf, dan pembuluh limfe, ovarium berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovari propium. Pembuluh darah ke ovarium (arteri ovarika) melalui ligamentum suspensorium ovarii (ligamentum infundibulopelvikum). Fungsi ovarium adalah untuk produksi hormon dan ovulasi.

Patofisiologi
Suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh mengingat bahwa terjadinya ruptur uteri sesudah seksio sesarea dilakukan segmen bawah uterus tidak begitu besar, disini diambil sikap untuk membolehkan wanita hamil untuk bersalin pervagina, kecuali jika sebab seksio sesarea tetap ada misalnya kesempitan pada pinggul, mengenai kontraindikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa, misalnya janin sudah meninggal dalam uterus atau janin terlalu kecil untuk hidup diluar kandungan (Menurut Prawirohardjo S, 1999).

Perawatan post operasi seksio sesarea.
Analgesia
Untuk wanita dengan ukuran tubuh rata – rata dapat disuntikkan intramuskuler yaitu mepedivin setiap 3 jam sekali bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikkan dengan cara serupa 10 mg morphin. Jika ibu berukuran kecil dosis mepedivin yang diberikan adalah 50 mg dan jika berukuran besar dosis yang paling tepat adalah 100 mg mepedivine.
Tanda vital
Pasien dievaluasi sekurang-kurangnya setiap jam sekali paling sedikit 4 jam dan tekanan darah, nadi, jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan fundus uteri serta pengukuran suhu badan harus diperiksa pada saat dini.
Terapi cairan dan diet
Karena selama 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi maka pemberian cairan infus harus cukup banyak dan mengandung elektrolit yang diperlukan agar tidak terjadi hipertermia dan dehidrasi.
Mobilisasi
Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan. Penderita miring ke kiri dan ke kanan sudah dapat dimulai sejak 6 – 10 jam setelah penderita sadar. Latihan pernafasan dilakukan penderita sambil tidur terlentang, sedini mungkin setelah sadar.
Perawatan luka
Luka insisi diinspeksi setiap hari untuk mengetahui penyembuhan luka. Secara normal jahitan kulit diangkat pada hari ke empat post partum. Pasien sudah dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.

Nifas

Pengertian
Nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu (Sinopsis Obstetri Fisiologi Jilid I, Halaman 115).
Nifas adalah massa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu (Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga, Jilid II, Halaman 68).
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. (Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I, Halaman 291).
Nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal).

Periode nifas
Periode nifas dibagi 3 (Menurut Depkes RI, 1990) antara lain :
Immediate puerperium adalah keadaan yang terjadi segera setelah persalinan sampai 24 jam sesudah persalinan (0 – 24 jam sesudah melahirkan).
Early puerperium adalah keadaan yang terjadi pada permulaan puerperium.
Waktu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari (1 minggu pertama).
Later puerperium adalah waktu 1 minggu sesudah melahirkan sampai 6 minggu.

Etiologi
Diduga persalinan mulai apabila uterus telah teregang sampai derajat tertentu.
Tekanan bagian terendah janin pada cervix dan segmen bawah rahim, demikian pula pada plexus nervosus di sekitar cervix dan vagina, merangsang permulaan persalinan.
Siklus menstruasi berulang setiap 4 minggu dan persalinan biasanya mulai pada akhir minggu ke-40 atau 10 siklus menstruasi.
Begitu kehamilan mencapai cukup bulan, setiap faktor emosional dan fisik dapat memulai persalinan.
Beberapa orang percaya bahwa ada hormon khusus yang dihasilkan oleh plasenta apabila kehamilan sudah cukup bulan yang bertanggung jawab atas mulainya persalinan.
Bertambah tuanya plasenta yang mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron dalam darah diduga menyebabkan dimulainya persalinan (Harry Oxorn, 1990, Patologi dan Fisiologi Persalinan; Halaman 103).

Insiden
Hampir 96 % janin berada dalam uterus dengan presentasi kepala dan pada presentasi kepala ini ditemukan  58 % ubun – ubun kecil terletak di kiri depan,  23 % di kanan depan,  11 % di kanan belakang, dan  8 % di kiri belakang. Keadaan ini disebabkan terisinya ruangan di sebelah kiri belakang oleh kolon sigmoid dan rectum.
Sehingga tampak presentase yang tinggi berada dalam uterus dibanding presentase kepala. Keadaan ini mungkin disebabkan pula karena kepala relatif lebih besar dan lebih berat. Mungkin pula bentuk uterus sedemikian rupa, sehingga volume bokong dan ekstremitas yang lebih besar berada di atas, di ruangan yang lebih luas, sedangkan kepala berada dibawah, di ruangan yang lebih sempit, ini dikenal sebagai teori akomodasi. Ada 3 faktor yang memegang peranan pada persalinan ialah :

Kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan.
Keadaan jalan lahir.
Janinnya sendiri
Dan data yang didapatkan di RSU Labuang Baji terdapat 79,6% ibu nifas yang melahirkan normal dari 3034 ibu nifas dalam tiga tahun terakhir ini (Medical Record RSU Labuang Baji Makassar, 2003).

Anatomi / Fisiologi

Dalam masa nifas, alat – alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan-perubahan alat genital secara keseluruhannya disebut involusio.
Genetalia interna dan eksterna (Sketsa gambar terlampir).
Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat, segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat. Pada hari ke-5 pasca persalinan uterus kurang lebih tinggi 7 cm atas symfisis atau setengah symfisis – pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas symfisis.
Bagian bekas implantasi plasenta merupakan luka kasar dan menonjol kedalam kavum uteri yang berdiameter 7,5 cm dan sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal.
Berat uterus gravidus aterm kira – kira 1.000 gr. Satu minggu pasca persalinan, menjadi kira – kira 500 gr, 2 minggu pasca persalinan 300 gr dan setelah 6 minggu pasca persalinan 40 – 60 gr.
Serviks agak terbuka seperti corong pada pasca persalinan dan konsistensinya lunak.
Endometrium mengalami perubahan yaitu timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.
Ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur – angsur kembali seperti semula.
Luka jalan lahir seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer.

Laktasi
Kelenjar mamma telah dipersiapkan semenjak kehamilan umumnya produksi ASI baru terjadi hari kedua atau ketiga pasca persalinan, dimana masing-masing buah dada terdiri 14 – 24 lobus yang terletak terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran air susu ibu adalah faktor anatomis, faktor biologis, makanan yang dimakan ibu, faktor istirahat dan faktor isapan anak.

Lochia
Lochia adalah sekret dari cavum uteri dn vagina dalam masa nifas. Hari 1 – 2 lochia rubra berwarna merah berisi lapisan decidu, selaput ketuban, dan mekoneum. Hari 3 – 7 sanguilenta berwarna cokelat, sedikit darah, banyak serum selaput lencir leucocye. Hari 7 – 10 lochia serosa warna agak kuning cair. Hari setelah 2 minggu lochia alba berwarna kekuningan berisi selaput lendir leucocye dan kuman yang telah mati.

Manifestasi klinik
Manifestasi klinik pada ibu menyusui dimasa nifas menurut Persis Mary Hammilton yaitu :
Kontraksi pada interval
Interval antar kontraksi secara bertahap memendek.
Durasi dan intensitas kontraksi meningkat
Rasa tidak nyaman mulai di belakang dan menjalar ke abdomen.
Berjalan biasanya menyebabkan meningkatnya intensitas kontraksi.
Dilatasi dan pendataran serviks mengalami kemajuan.

Test Diagnostik
Test diagnostik yang biasanya diberikan pada ibu nifas yaitu : test laboratorium terutama terhadap hematokrit untuk melihat konsentrasi darah dalam tubuh setelah 3 hari post partum. Normal hematokrit pada saat tersebut adalah 42 %.

Penanganan Medik
Penanganan medik yang dilakukan pad ibu nifas adalah :
Perawatan perineum
Perawatan episiotomi
Perawatan hemoroid : hemoroid biasanya menyertai persalinan. Perawatannya dengan memberikan kompres dingin untuk menurunkan atau mengurangi bengkak pada hemoroid.
Perawatan payudara

Perubahan psikologi pada ibu nifas
Menurut Reva Rubin (1960) proses adaptasi psikologis pada ibu nifas melalui 3 fase yaitu :

Fase taking in (fase mengambil).
Terjadinya pada hari 1 – 3 post partum
Dalam memenuhi kebutuhan sangat tergantung pada orang lain.
Sulit mengambil keputusan.
Fase taking hold
Terjadinya pda hari 4 – 10 post partum
Sikap aktif dan positif serta lebih mandiri namun masih memerlukan bantuan orang lain.
Masih ada kurang percaya diri tetapi fokus perhatian mulai meluas.
Tenaga ibu mulai sehat dan meningkat serta merasa lebih nyaman.
Fase letting go
Terjadi setelah 10 hari post partum.
Mulai menjalankan peranannya dan sudah punya konsep.
Mampu merawat bayinya, dirinya sendiri dan mulai sibuk dengan tanggung jawab sebagai ibu.

Proses Keperawatan
Pengkajian dasar data klien
Tinjau ulang catatan prenatal dan intra operatif dan adanya indikasi untuk kelahiran sesarea.
Sirkulasi
Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 – 800 ml.
Integritas ego
Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri. Klien/pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. mungkin mengekspresikan ketidaknyamanan untuk menghadapi situasi baru.
Eliminasi : Kateter urinarius mungkin terpasang, urine jernih pucat, bising usus tidak ada, samar atau jelas.
Makanan / cairan : abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal
Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spiral epidural.
Nyeri / ketidaknyaman
Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya trauma bedah / insisi, nyeri penyerta, distensi kandung kemih / abdomen, efek-efek anastesia, mulut mungkin kering.
Pernafasan : bunyi paru jelas dan vesikuler
Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh. Jalur parenteral bila digunakan paten, dan sisi bebas eritema, bengkak dan nyeri tekan.
Seksualitas
Fundus kontraksi dan terletak di umbilikus. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan berlebihan / banyak.


Diagnosa Keperawatan
Perubahan ikatan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi
Kemungkinan dibuktikan oleh keragu-raguan untuk menggendong/ berinteraksi dengan bayi, mengungkapkan masalah/kesulitan koping terhadap situasi, tidak menghadapi pengalaman traumatik secara konstruktif.
Hasil yang diharapkan klien akan :
Menggendong bayi, bila kondisi ibu dan neonatus memungkinkan, mendemostrasikan perilaku kedekatan dan ikatan yang tepat, mulai secara aktif mengikuti tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat.

Rencana tindakan
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.Anjurkan klien untuk meng-gendong, menyentuh dan me-meriksa bayi, tergantung pada kondisi klien dan bayi baru lahir, bantu sesuai kebutuhan.

2.Berikan kesempatan untuk ayah/pasangan untuk menyen-tuh dan menggendong bayi dan bantu dalam perawatan bayi se-suai kemungkinan situasi.

3.Observasi dan catat interaksi keluarga-bayi, perhatikan peri-laku yang dianggap menanda-kan ikatan dan kedekadan dalam budaya tertentu.

4.Diskusikan kebutuhan kemaju-an dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan. Perhatikan kenor-malan dari variasi respon dari satu waktu ke waktu lainnya dan diantara anak yang berbeda.
5.Perhatikan pengungkapan/pri-laku yang menunjukkan keke-cewaan atau kurang minat/kede-katan.

6.Berikan kesempatan kepada orang tua untuk mengungkap-kan perasaan-perasaan yang negatif tentang diri mereka dan bayi.
7.Perhatikan lingkungan sekitar kelahiran sesaria, kebanggaan diri orang tua dan persepsi ten-tang pengalaman kelahiran, reaksi awal mereka terhadap bayi, dan partisipasi mereka pada pengalaman kelahiran.

8.Anjurkan dan bantu dalam me-nyusui pada pilihan klien dan keyakinan/praktis budaya.
9.Sambut keluarga untuk kunju-ngan singkat segera bila ibu/bayi baru lahir memungkin-kan.

10.Berikan informasi sesuai kebu-tuhan tentang keamanan dan kondisi bayi. Dukung pasangan sesuai kebutuhan.
11.Jawab pertanyaan klien menge-nai protokol perawatan selama periode pasca kelahiran awal.
Kolaborasi :
12.Beritahu anggota tim perawatan kesehatan yang tepat (mis : staf ruang perawatan atau perawat pasca partum) tentang observasi sesuai indikasi.
13.Siapkan untuk dukungan/eva-luasi terus-menerus setelah pu-lang, mis : pelayanan perawat berkunjung, agensi komunitas dan kelompok dukungan orang tua.

1.Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga untuk terjadi karena ibu dan bayi secara emosional menerima isyarat satu sama lain, yang memulai kedekatan dan proses pengenalan. Bantuan pada interaksi pertama atau sampai jalur intravena dilepas mencegah klien dari merasa kecewa atau tidak adekuat (Catatan : Meskipun klien telah memilih untuk mele-paskan anaknya, berinteraksi dengan bayi baru lahir dapat memfasilitasi proses berduka).

2.Memudahkan ikatan/kedekatan dian-tara ayah dan bayi. Memberikan ke-sempatan untuk ibu, memvalidasi rea-litas situasi dan bayi baru lahir pada waktu dimana prosedur dan kebutuh-an fisiknya mungkin membatasi kemampuan interaksinya.
3.Kontak mata dengan mata, pengguna-an posisi wajah, berbicara pada suara nada tinggi, dan menggendong bayi dengan kedekatan pada budaya Ame-rika. Pada kontak pertama dengan bayi, ibu menunjukkan pola progresif dari perilaku dengan cara mengguna-kan ujung jari pada awalnya untuk menggali ekstremitas bayi dan berlan-jut pada penggunaan telapak tangan sebelum mendekap bayi dengan seluruh tangan dan lengan.
4.Membantu klien/pasangan memahami makna dan pentingnya proses dan memberikan keyakinan bahwa perbe-daan diperkirakan.

5.Kedatangan anggota keluarga baru, bahkan bila diinginkan dan diantisipa-si, menciptakan periode sementara, memerlukan penyatuan anak baru ke dalam keluarga yang ada.
6.Konflik tidak teratasi selama proses pengenalan awal orang tua bayi dapat mempunyai efek-efek negatif jangka panjang pada masa depan hubungan orang tua-anak.
7.Orang tua perlu bekerja melalui hal-hal bermakna pada kejadian penuh stress seputar kelahiran anakn dan orientasikan mereka sendiri terhadap realita sebelum mereka dapat memfo-kuskan pada bayi efek-efek anastesia, ansietas dan nyeri dapat mengubah persepsi klien selama dan setelah ope-rasi.
8.Kontak awal mempunyai efek positif pada durasi menyusui ; kontak kulit dengan kulit dan mulainya tugas-tugas ibu meningkatkan ikata.
9.Meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu memulai proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukkan anggota baru ke dalam struktur keluarga.
10.Membantu pasangan untuk mem-proses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan khususnya bila periode pengenalan awal telah lambat.
11.Informasi menghilangkan ansie-tas dapat mengganggu ikatan atau me-ngakibatkan absorbsi diri daripada perhatian terhadap bayi baru lahir.
12.Ketidakadekuatan prilaku ikatan atau interaksi buruk antara klien/pasa-ngan dengan bayi memerlukan duku-ngan dan evaluasi lanjut.

13.Banyak pasangan mempunyai konflik tidak teratasi mengenai proses pengenalan awal orang tua-bayi yang memerlukan pemecahan setelah pulang.

Nyeri berhubungan dengan pembedahan
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Melaporkan nyeri, kram (nyeri penyerta), sakit kepala, abdomen kembung, nyeri tekan payudara ; prilaku melindungi/distraks, wajah menahan nyeri.
Hasil yang diharapkan :
Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri/ketidaknyamanan dengan tepat. Mengungkapkan berkurangnyer nyeri, tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
Rencana tindakan :
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.Tentukan karakteristik dan loka-si ketidaknyamanan. Perhatikan isyarat verbal dan non verbal serta meringis, kaku dan gera-kan melindungi atau terbatas.

2.Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab, ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat.

3.Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi, perhatikan perubahan prilaku.

4.Lakukan latihan nafas dalam dan batuk dengan menggunakan prosedur-prosedur pembebatan dengan tepat, 30 menit setelah pemberian analgesik.

5.Ubah posisi klien, kurangi rang-sangan yang berbahaya dan berikan gosokan punggung. An-jurkan penggunaan teknik per-nafasan dan relaksasi dan distraksi.
6.Pemberian analgetik sesuai indi-kasi.

1.Klien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyama-nan secara langsung, membedakan karakteristik khusus dari nyeri mem-bantu membeda-an nyeri pasca operasi dari terjadinya komplikasi.
2.Meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri berkena-an dengan ansietas dan ketakutan ka-rena ketidaktahuan dan memberikan rasa kontrol
3.Pada banyak klien, nyeri dapat me-nyebabkan gelisah serta TD dan nadi meningkat. Analgetik dapat menurun-kan TD.
4.Nafas dalam meningkatkan upaya per-nafasan. Pembebatan menurunkan re-gangan dan ketegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyama-nan berkenaan dengan gerakan otot abdomen. Batuk diindikasikan bila sekresi atau ronkhi terganggu.
5.Relaksasi otot, dan mengalihkan per-hatian dari sensasi nyeri. Meningkat-kan kenyamanan, dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan, me-ningkatkan rasa sejahtera.

6.Meningkatkan kenyamanan, yang memperbaiki status psikologis dan meningkatkan mobilitas.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh ketegangan, keprihatinan, perasaan yang tidak adekuat, stimulasi simpatik, tidak dapat tidur.
Hasil yang diharapkan :
Mengungkapkan kesadaran akan perasaan ansietas, mengidentifikasi cara untuk menurunkan atau menghilangkan ansietas, melaporkan bahwa ansietas sudah menurun pada tingkat yangdapat diatasi, kelihatan rileks dan dapat tidur/istirahat.
Rencana tindakan :
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.Dorong keberadaan/partisipasi dari pasangan.

2.Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber dari masalah. Men-dorong klien untuk mengung-kapkan kebutuhan dan harapan yang tidak terpenuhi. Memberi-kan informasi sehubungan de-ngan normalnya perasaan terse-but.
3.Bantu klien/pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping yang lazim dan perkem-bangan strategi koping baru jika dibutuhkan.
4.Berikan informasi yang akurat tentang keadaan klien/bayi.

5.Mulai kontak antara klien/pasa-ngan dengan bayi sesegera mungkin. Jika bayi dibawa ke neonatal intensive care unit (NICU).

1.Memberikan dukungan emosional, dapat mendorong pengungkapan ma-salah.
2.Kelahiran sesaria mungkin dipandang sebagai kegagalan dalam hidup oleh klien/pasangan dan hal tersebut dapat memiliki dampak negatif dalam proses ikatan/menjadi orang tua.

3.Membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peranan baru; mengurangi perasaan ansietas.

4.Khayalan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau kesalahpa-haman dapat meningkatkan tingkat ansietas.
5.Mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi, takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui, dan/atau menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi.

Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.
Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan perasaan negatif diri dalam situasi (misalnya tidak berdaya, malu/bersalah).
Hasil yang diharapkan :
Mendiskusikan masalah sehubungan dengan peran dan persepsi terhadap pengalaman kelahiran dari klien/pasangan.
Mengungkapkan pemahaman mengenai faktor individu yang dapat mencetuskan situasi saat ini.
Mengekspresikan harapan diri yang positif
Rencana tindakan :
Intervensi
Rasional
1.Tentukan respon emosional klien/pasangan terhadap kelahi-ran sesaria

2.Tinjau ulang partisipasi klien/ pasangan dan peran dalam me-ngalami kelahiran. identifikasi perilaku positif selama proses pranatal dan antenatal.

3.Tekankan kemiripan antara ke-lahiran sesaria dan vagina. Sam-paikan sikap positif terhadap kelahiran sesaria dan atur pera-watan pasca partum sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada klien setelah ke-lahiran vagina.
Kolaborasi :
4.Rujuk klien/pasangan untuk konseling profesional bila reaksi maladaptif.

1.Kedua anggota pasanga mungkin me-ngalami reaksi emosi negatif terhadap kelahiran sesaria. Kelahiran sesaria yang tidak direncanakan dapat berefek negatif terhadap harga diri klien, mem buat klien merasa tidak adekuat dan telah gagal sebagai wanita. Ayah atau pasangan, khususnya bila tidak dapat hadir pada kelahiran sesaria, dapat merasa bahwa ia menolak pasangan-nya dan tidak memenuhi peran yang diantisipasinya sebagai pendukung emosional selama proses kelahiran.
2.Respon berduka dapat berkurang apa-bila ibu dan ayah mampu saling ber-bagi akan pengalaman kelahiran. memfokuskan kembali perhatian klien atau pasangan untuk membantu mere-ka memandang kehamilan dalam tota-litasnya dan melihat bahwa tindakan mereka sudah bermakna terhadap ha-sil yang optimal. Dapat membantu menghindari rasa bersalah/mempersa-lahkan.
3.Klien dapat mengubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaimana persepsinya tentang ke-sehatan atau penyakitnya berdasarkan pada sikap persepsinya tentang ke-sehatan atau penyakitnya berdasarkan pada sikap profesional. Perawatan se-rupa adalah pilihan yang dapat diterima disamping kelahiran vagina.
4.Klien yang tidak mampu mengatasi rasa berduka atau perasaan negatif memerlukan bantuan profesional lebih lanjut.

Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi (misalnya hipotensi ortostatik, adanya HKK atau eklampsia)
Kemungkinan dibuktikan oleh adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual.
Hasil yang diharapkan :
Mendomostrasikan perilaku untuk menurunkan faktor-faktor risiko dan/atau perlindungan diri.
Bebas dari komplikasi
Rencana tindakan :
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.Tinjau ulang catatan pranatal dan intranatal terhadap faktor yang mempredisposisi klien pada komplikasi. Catat kadar Hb dan kehilangan darah ope-ratif.
2.Pantau TD, nadi dan suhu. Catat kulit dingin, basah, nadi lemah. Perubahan prilaku, per-lambatan pengisian kapiler atau sianosis.

3.Inspeksi balutan terhadap per-darahan berlebihan.

4.Bantu klien pada ambulasi awal. beri supervisi yang ade-kuat dalam hal mandi dan rendam duduk.

5.Anjurkan latihan kaki/pergela-ngan kaki dan ambulasi dini.

Kolaborasi
6.Berikan MgSO4 sesuai indikasi

7.Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastis untuk kaki bila risiko atau gejala plebitis ada.

1.Adanya faktor-faktor resiko seperti kelelahan miometrial, distensi uterus berlebihan, stimulasi oksitosin lama, tromboflebitis pranatal memungkin-kan klien lebih rentan terhadap kom-plikasi pasca operasi.
2.Tekanan darah yang tinggi dapat me-nandakan terjadinya atau berlanjut-nya hipertensi, memerlukan magne-sium sulfat (MgSO4) atau pengobat-an antihipertensif lain. Hipotensi dan takikardia dapat menunjukkan dehid-rasi dan hipovolemia tetapi mungkin tidak terjadi sampai volume darah sirkulasi telah menurun 35-50%, dimana tanda vasokonstriksi mung-kin terlihat.
3.Luka bedah dengan drain dapat membasahi balutan; namun rembesan biasanya tidak terlihat dan dapat me-nunjukkan terjadinya komplikasi.
4.Hipotensi ortostatik dapat terjadi pada perubahan dari posisi terlentang ke berdiri, atau mungkin sebagai aki-bat dari vasodilatasi, karena panas dari rendam duduk tersebut.
5.Meningkatkan aliran balik vena, mencegah statis/penumpukan pada ekstremitas bawah, menurunkan resiko plebitis.
6.MEmbantu menurunkan kepekaan serebral pada adanya HKK atau ek-lapmsia.
7.Menurunkan statis vena, meningkat-kan risiko terhadap pembentukan trombus.

Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan.
Tanda dan gejala tidak dapat diterapkan; adanya tanda dan/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual.
Hasil yang diharapkan :
Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan risiko-risiko dan/atau meningkatkan penyembuhan.
Menunjukkan luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan (misalnya penyatuan tepi-tepi luka), uterus lunak/tidak nyeri tekan, dengan aliran dan karakter lokhia normal.
Bebas dari infeksi, tidak demam, tidak ada bunyi nafas adventisius, dan urine jernih kuning pucat.
Rencana tindakan :
Intervensi
Rasional
1.Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas ko-toran, pembalut perineal.
2.Bersihkan luka dan ganti balut-an bila basah.

3.Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan ke-merahan, edema, nyeri, eksu-dat atau gangguan penyatuan.
4.Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih.

Kolaborasi :
5.Berikan antibiotik khusus untuk proses infeksi yang ter-identifikasi.
1.Membantu mencegah atau membata-si penyebaran infeksi.

2.Lingkungan lembab merupakan me-dia paling baik untuk pertumbuhan bakteri. Bakteri dapat berpindah me-lalui aliran kapiler melalui balutan basah ke luka.
3.Tanda-tanda ini menandakan infeksi luka, biasanya disebabkan oleh strep-tokokus, stapilokokus atau spesies pseudomonas.
4.Demam setelah pasca operasi hari ketiga, leukositosis dan takikardia menunjukkan infeksi. Peningkatan suhu sampai 38,30 C dalam 24 jam pertama sangat mengindikasikan infeksi, peningkatan sampai 380 C pada hari kedua dalam 10 hari pertama pascapartum.

5.Perlu untuk mematikan mikroorga-nisme.

Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (diastasis rekti, kelebihan analgetik, atau anastesi).
Kemungkinan dibuktikan oleh laporan rasa penuh abdomen/rektal atau tekanan, mual, defekasi kurang dari biasanya, mengejan saat defekasi, penurunan bising usus.
Hasil yang diharapkan klien akan :
Mendemostrasikan kembalinya motilitas usus dibuktikan oleh bising usus aktif dan keluarnya flatus.
Mendapatkan kembali pola eliminasi biasanya/optimal dalam 4 hari pasca partum.
Rencana tindakan
Intervensi
Rasional
Mandiri
1.Palpasi abdomen, perhatikan distensi atau ketidaknyamanan.
2.Anjurkan cairan oral yang ade-kuat (misalnya 6 – 8 gelas/hari) bila masukan oral sudah mulai kembali.

3.Anjurkan latihan kaki dan pe-ngencangan abdominal, ting-katkan ambulasi dini.

4.Berikan analgesik 30 menit sebelum ambulasi.

5.Berikan pelunak faeces.
1.Menandakan pembentukan gas dan akumulasi atau kemungkinan ileus paralitik.
2.Makanan kasar (misalnya buah dan sayuran, khususnya dengan kulit dan bijinya) dan meningkatkan cairan yang merangsang eliminasi dan mencegah konstipasi defekasi.
3.Latihan kaki mengencangkan otot-otot abdomen dan memperbaiki mo-tilitas abdomen. Ambulasi progresif setelah 24 jam meningkatkan pristal-tik dan pengeluaran gas, dan meng-hilangkan atau mencegah nyeri kare-na gas.
4.Memudahkan kemampuan untuk ambulasi, dapat menurunkan aktivi-tas usus.
5.Melunakkan faeces, merangsang pe-ristaltik dan membantu mengembali-kan fungsi usus.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan masalah/kesalahan konsep, keragu-raguan dalam atau ketidakadekuatan melakukan aktivitas-aktivitas, ketidaktepatan perilaku (misalnya; apatis).
Hasil yang diharapkan
Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis, kebutuhan-kebutuhan individu, hasil yang diharapkan.
Melakukan aktivitas-aktivitas/prosedur yang perlu dengan benar dan penjelasan alasan untuk tindakan.
Rencana tindakan
Intervensi
Rasional
1.Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar. Bantu klien atau pasangan dalam mengi-dentifikasi kebutuhan-kebutuh-an.

2.Perhatikan status psikologis dan respons terhadap kelahiran sesaria serta peran menjadi ibu.

3.Berikan informasi yang berhubungan dengan perubah-an fisiologis dan psikologis yang normal berkenaan dengan kelahiran sesaria dan kebutuh-an-kebutuhan berkenaan de-ngan post partum.

4.Diskusikan program latihan yang tepat sesuai ketentuan.
1.Periode pascapartum dapat menjadi pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan diberikan untuk mem-bantu mengembangkan pertumbuhan ibu, maturasi dan kompetensi. Namun, klien membutuhkan waktu untuk bergerak dari fase “mengam-bil” sampai fase “menahan” yang penerimaan dan kesiapannya diting-katkan dan ia secara emosi dan fisik siap untuk mempelajari informasi baru untuk memudahkan penguasaan peran barunya.
2.Ansietas yang berhubungan dengan kemampuan untuk merawat diri sen-diri dan anaknya, kekecewaan pada pengalaman kelahiran atau masalah-masalah berkenaan dengan perpisa-hannya dari anak dapat mempunyai dampak negatif pada kemampuan belajar dan kesiapan klien.
3.Membantu klien mengenali perubah-an normal dari respons-respons abnormal yang memerlukan tindakan status emosional klien mungkin ka-dang-kadang labil pada waktu ini sering dipengaruhi oleh kesejahtera-an fisik. Antisipasi perubahan ini dapat menurunkan stress berkenaan dengan transisi periode ini yang me-merlukan pembelajaran peran baru dan pelaksanaan tanggung jawab baru.
4.Program latihan progresif biasanya dapat dimulai bila ketidaknyamanan abdomen telah berkurang (kira-kira 3-4 minggu pasca partum). Memban-tu tonus-tonus otot, meningkatkan sirkulasi, menghasilkan gambaran keseimbangan tubuh dan meningkat-kan perasaan kesejahteraan umum.

Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma/diversi mekanis
Kemungkinan dibuktikan oleh peningkatan pengisian/distensi kandung kemih, perubahan dalam jumlah/frekuensi berkemih.
Hasil yang diharapkan :
Mendapatkan pola berkemih yang biasa/optimal setelah pengangkatan kateter.
Mengosongkan kandung kemih pada setiap berkemih.
Rencana tindakan
Intervensi
Rasional
1.Perhatikan dan catat jumlah, warna dan konsentrasi drainase urin.

2.Berikan cairan per-oral. Misal-nya 6 – 8 gelas perhati, bila te-pat.
3.Perhatikan tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) misal warna keruh, bau busuk) setelah pengangkatan kateter.
4.Pertahankan infus intravena selama 24 jam setelah pembe-dahan, sesuai indikasi. Tingkat-kan jumlah cairan infus bila haluaran 30 ml/jam atau kurang.
1.Oliguria (keluaran kurang dari 30 ml/jam) mungkin disebabkan kele-bihan cairan, atau efek-efek antidiu-retik dan infus oksitosin.
2.Cairan meningkatkan hidrasi dan fungsi ginjal,dan membantu mence-gah spasis kandung kemih.
3.Adanya kateter mempredisposisikan klien pada masuknya bakteri dan ISK

4.Biasanya 3 liter cairan, meliputi larutan RL, adekuat untuk menggan-tikan kehilangan dan mempertahan-kan aliran ginjal/haluaran urine.

Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan
Kemungkinan dibuktikan oleh pengungkapan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam tingkat yang diinginkan.
Hasil yang diharapkan :
Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan perawatan diri.
Mengidentifikasi/menggunakan sumber-sumber yang tersedia.
Rencana tindakan
Intervensi
Rasional
1.Pastikan berat/durasi ketidak-nyamanan. Perhatikan adanya sakit kepala pasca spinal.

2.Kaji status psikologis klien

3.Ubah posisi klien setiap 1-2 jam, bantu dalam latihan paru, ambulasi dan latihan kaki.

4.Kolaborasi dalam pemberian analgesik setiap 3 – 4 jam sesuai kebutuhan.
1.Nyeri berat mempengaruhi respon emosi dan perilaku, sehingga klien mungkin tidak mampu berfokus pada aktivitas perawatan diri sampai kebu-tuhan fisiknya terhadap kenyamanan terpenuhi. Sakit kepala berat dihu-bungkan dengan posisi tegak memer-lukan modifikasi aktivitas-aktivitas dan bantuan tambahan untuk meme-nuhi kebutuhan-kebutuhan individu.
2.Pengalaman nyeri fisik mungkin di-sertai dengan nyeri mental yang mempengaruhi keinginan klien dan motivasi untuk mendapatkan otonomi.
3.Membantu mencegah komplikasi bedah seperti plebitis atau pneumo-nia yang dapat terjadi bila tingkat ketidaknyamanan mempengaruhi pengubahan/aktivitas normal klien.
4.Menurunkan ketidaknyamanan, yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan perawatan diri.

SUMBER:

Depkes, RI, Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga, (Perawatan III), Jilid 1, Edisi 3, Jakarta, 1990.

Doenges, ME dan Moorhouse, MF, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Edisi 2, Jakarta, EGC, 2001.

Hamilton, MP, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Jakarta, EGC, 1995.

Mansjor A, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Media Aeusculapius, 1999.

Mochtar Rusta, Sinopsis Obstetri, Jilid 1 dan Jilid 2, Jakarta, EGC, 1998.

Prawirohardjo S, Ilmu Kebidanan dan Ilmu Bedah Kebidanan, Edisi 3, Yayasan Bina Pustaka, 1999.

Prawirohardjo S, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka, 2000.

Sulaiman S, Obstetri Fisiologi, Bagian Obstetri Gynekology Fakultas Kedokteran UNPAD, Bandung, 1989.

DIarsipkan di bawah: 1. ASKEP ZONE

pemberian obat

CARA PEMBERIAN OBAT

1.Persiapan pemberian obat melalui IV, IM, Sub kutan, dan intra kutan :

A.Persiapan pemberian obat melalui intravena (IV)
Spoit dan jarum steril dalam tempatnya
Obat-obatan yang diperlukan
Nirbekken / bengkok
Kapas aseptik
Bak spoit steril
Turnikel
Tempat untuk menampung kotoran
Perlak dan alasnya
Gunting
Plester
Baskom berisi larutan desinfektan untuk mencuci tangan
Handuk dan handscoen

B.Persiapan pemberian obat melalui intramuskuler (IM)
Spoit (ukuran beragam sesuai dengan volume obat yang akan diberikan)
Jarum steril
Kassa antiseptik
Obat-obat yang diperlukan (ampul atau vial obat)
Cairan pelarut, misalnya NaCl atau aquades
Bak spoit steril yang tertutup
Bengkok yang berisi larutan desinfektan
Tempat untuk menampung kotoran
Perlak dan alasnya
Baskom yang berisi larutan desinfektan untuk cuci tangan
Handuk dan handscoen

C.Persiapan pemberian obat melalui sub cutan
Spoid dan jarum steril
Obat yang diperlukan
Kapas antiseptik steril
Ampul atau vial dari obat yang steril
Kasa steril untuk membuka ampul
Nirbekken / bengkok
Baskom berisi larutan desinfktanuntuk mencucui tangan
Handuk dan handscoen

D.Persiapan pemberian obat melalui intra cutan
Spoit dan jarum steril
Kasa antiseptik
Obat yang diperlukan
Bak spoit steril
Bengkok
Baskom berisi larutan desinfektan untuk mencuci tangan
Handuk dan handscoen

2.Cara pemberian obat melalui IV, IM, Sub kutan, dan intra kutan :

A.Pemberian obat melalui intravena (IV)
Pastikan adanya order pengobatan
Peralatan disiapkan
Yakinkan bahwa pasien benar, memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan, kemudian bantu mengatur posisi yang enak.
Cuci tangan kemudian gunakan handscoen
Lakukan skin test jika ada alergi terhadap pasien maka batalkan pemberian obat tetapi jika tidak ada alergi maka bisa dilanjutkan
Tentukan dan cari vena yang akan ditusuk
Bila vena sudah ditemukan misalnya basilika, atur lengan lurus dan pasang turnikel sampai vena benar-benar dapat dilihat dan diraba kemudian desinfeksi dengan menggunakan kapas alkohol
Siapkan spoit yang sudah berisi obat. Bila dalam tabung masih terdapat udara, maka udara harus dikeluarkan
Pelan tusukkan jarum kedalam vena dangan posisi jarum sejajar dengan vena dan lubang jarum menghadap keatas. Untuk mencegah vena tidak bergeser tangan yang tidak memegang spoit dapat digunakan untuk menaan vena sampai jarum masuk vena
Lakukan aspirasi dengan cara menarik pengokang spoit. Bila terisap darah berarti sudah didalam vena, jika tidak terisap/keluar darah berarti belum didalam vena. Bila sudah didalam vena maka lepaskan turnikel dan masukkan obat perlahan-lahan sampai habis.
Setelah obat masuk semua, segera cabut spuit dan buang ditempat pembuangan sesuai prosedur.
Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak
Observasi keadaan pasien dan catat semua tindakan anda kemudian tanda tangan (nama terang)

B.Pemberian obat melalui intramuskuler (IM)
Pastikan adanya order pengobatan
Peralatan disiapkan
Siapkan obat dengan mengambil obat dari ampul atau vial. Periksa urutan medikasi terhadap rute, dosis dan waktu pemberian
Yakinkan bahwa pasien benar, memberikan HE (healt education) dan beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan, kemudian bantu mengatur posisi yang enak.
Cuci tangan kemudian gunakan handscoen
Tentukan lokasi penyuntikan, pilih area yang bebas dari lesi, nyri tekan, bengkak dan radang. Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar
Siapkan spoit yang sudah berisi obat, buka penutup jarumnya dengan hati-hati, dan keluarkan udara dalam spoit
Gunakan tangan yang tidak memegang spuit untuk membentangkan kulit pada area yang akan ditusuk, pegang spoit antara jempol dan jari-jari kemudian tusukkan jarum secara tegak lurus pada sudut 90o

Lakukan aspirasi untuk mengecek apakah jarum tidak mengenai pembuluh darah denga cara menarik pengokang. Bila terisap darah, maka segera cabut spuit, buamg dan ganti yang baru. Bila tidak terisap darah, maka perlahan-lahan masukkan obat dengan cara mendorong pengokang spuit
Bila obat sudah masuk semua, maka akan segera cabut spuit dan dan lakukan masage pada area penusukan
Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak
Buang spuit pada tempat yang telah disediakan, bereskan peralatan
Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda

C.Pemberian obat melalui sub cutan
Cuci tangan kemudian gunakan handscoen
Peralatan disiapkan
Masukkan obat dari vial atau ampul kedalam tabung spuit dengan cara yang benar
Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan dan atur dalam posisi yang nyaman (jangan keliru pasien, bantu pasien pada posisi yang mana lengan, kaki, atau perut yang digunakan injeksi dapat rileks)
Pilih area tubuh yang akan disuntik, kemudian Bersihkan kulit dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar
Siapkan spuit, lepaskan penutup secara tegak lurus sambil dan keluarkan udara dari spuit
Pegang spoit dengan salah astu tangan antara jempol dan jari-jari pada area injeksi dengan telapak tangan menghadap kearah samping atau keatas untuk kemiringan 45o. Gunakan tangan yang tidak memegang spoit untuk menghangkat dan merentangkan kulit, lalu secara hati-hati dan mantap tangan yang lain menusukkan jarum. Lakukan aspirasi, bila muncul darah, maka segera cabut spoit untuk dibuang dan diganti dangan apoit yang baru pula. Bila tidak muncul darah, maka pelan-pelan dorong obat kedalam jaringan
Cabut spoit lalu usap dan massage pada area injeksi. Bila tempat penusukan mengeluarkan darah maka tekan area tusukan dengan kasa steril kering sampai perdarahan berhenti
Buang spuit pada tempat yang telah disediakan, bereskan peralatan
Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak
Cuci tangan
Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda
Kaji keefektifan obat.

D.Pemberian obat melalui intra cutan
Cuci tangan kemudian gunakan handscoen
Peralatan disiapkan
Beritahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan
Pilih area tubuh yang akan disuntik,misalnya lengan kanan dan lakukan desinfeksi dengan pengusapan antiseptika secara melimgkar dari dalam kedalam keluar
Pegang erat lengan pasien dengan tangan kiri anda dan tangan yang satunya memegang spoit kearah klien
Tusukkan spoit dengan sudut 15o pada epidermis kemudian teruskan sampai dermis lalu dorong cairan obatnya. Obat ini akan menimbulkan tonjolan dibawah permukaan kulit
Cabut spoit, usaplah pelan-pelan arwa penyuntikan dengan kapas antiseptik tanpa memberikan massage(massage dapat menyebabkan oabt masuk kejaringan atau keluar melalui lubang bekas tusukan)
Buang spuit pada tempat yang telah disediakan, bereskan peralatan
Rapikan pasien dan atur dalam posisi yang enak
Cuci tangan
Observasi keadaan pasien dan catat tindakan anda

3.Cara perdokumentasian pemberian obat :
Jika hasil pengkajian menunjukkan bahwa perlu dilakukan pendidikan kesehatn maka perawat harus membuat perdokumentasian khusus untuk pelaksanaan penyuluhan kesehatan pada klien dan keluarganya.
Pada saat klien telah diberikan informasi tentang mamfaat / fungsi dari pemberian obat yang dilakukan,maka perawat segera membuat urat persetujuan tindakan medik (informedcontent) sebagai aspek legilitas dalam perlindungan hukum bagi perawat.
Catat semua alat yang digunakan, baik jenisnya, jumlahnya maupun dosisnya, sebagai pertanggungjawaban adiministrasi pengobatan pada pihak R.S
Buat laporan dengan mencatat langkah-langkah prosedur pemberian obat
Catat kapan pemberian obat dan obat oapa yang telah diberikan serta Catat perubahan yang dirasakan oleh pasien setelah pemberian obat tersebut.
Dokumentasi harus segera dilakukan pada setiap pelaksanaan pemberian obat
Pastikan kebenaran akan setiap pencatatan yang dilakukan
Mencatat nama perawat yang melakukan penyuntuikan serta tanda tangan

imbo

Asap

Asap adalah suspensi partikel kecil di udara (aerosol) yang berasal dari pembakaran tak sempurna dari suatu bahan bakar. Asap umumnya merupakan produk samping yang tak diinginkan dari api (termasuk kompor dan lampu) serta pendiangan, tapi dapat juga digunakan untuk pembasmian hama (fumigasi), komunikasi (sinyal asap), pertahanan (layar asap, smoke-screen) atau penghirupan tembakau atau obat bius. Asap kadang digunakan sebagai agen pemberi rasa (flavoring agent) dan pengawet untuk berbagai bahan makanan.

Keracunan asap adalah penyebab utama kematian korban kebakaran di dalam ruangan. Asap ini membunuh dengan kombinasi kerusakan termal, keracunan, dan iritasi paru-paru yang disebabkan oleh karbon monoksida, hidrogen sianida, dan produk pembakaran lainnya.

Partikel asap terutama terdiri dari aerosol (atau kabut) partikel padat atau butiran cairan yang mendekati ukuran ideal untuk penyebaran Mie cahaya tampak.

Drug

Drug

A drug, broadly speaking, is any substance that, when absorbed into the body of a living organism, alters normal bodily function.[3] There is no single, precise definition, as there are different meanings in drug control law, government regulations, medicine, and colloquial usage.[4]

In pharmacology, Dictionary.com defines a drug as "a chemical substance used in the treatment, cure, prevention, or diagnosis of disease or used to otherwise enhance physical or mental well-being."[4] Drugs may be prescribed for a limited duration, or on a regular basis for chronic disorders.[5]

Recreational drugs are chemical substances that affect the central nervous system, such as opioids or hallucinogens.[5] They may be used for perceived beneficial effects on perception, consciousness, personality, and behavior.[5][6] Some drugs can cause addiction and habituation.[6]

Drugs are usually distinguished from endogenous biochemicals by being introduced from outside the organism.[citation needed] For example, insulin is a hormone that is synthesized in the body; it is called a hormone when it is synthesized by the pancreas inside the body, but if it is introduced into the body from outside, it is called a drug.[citation needed]

Many natural substances such as beers, wines, and some mushrooms, blur the line between food and drugs, as when ingested they affect the functioning of both mind and body.

Medication
Main article: pharmaceutical drug

A medication or medicine is a drug taken to cure and/or ameliorate any symptoms of an illness or medical condition, or may be used as preventive medicine that has future benefits but does not treat any existing or pre-existing diseases or symptoms.

Dispensing of medication is often regulated by governments into three categories — over-the-counter (OTC) medications, which are available in pharmacies and supermarkets without special restrictions, behind-the-counter (BTC), which are dispensed by a pharmacist without needing a doctor's prescription, and Prescription only medicines (POM), which must be prescribed by a licensed medical professional, usually a physician.[citation needed]

In the UK, BTC medicines are called pharmacy medicines which can only be sold in registered pharmacies, by or under the supervision of a pharmacist, these medications are designated by the letter P on the label,[7] the precise distinction between OTC and prescription drugs depends on the legal jurisdiction.[citation needed]

Medications are typically produced by pharmaceutical companies and are often patented to give the developer exclusive rights to produce them, but they can also be derived from naturally occurring substance in plants called herbal medicine.[citation needed] Those that are not patented (or with expired patents) are called generic drugs since they can be produced by other companies without restrictions or licenses from the patent holder.

Drugs, both medicinal and recreational, can be administered in a number of ways:

* Orally, as a liquid or solid, that is absorbed through the stomach.
* Inhaled, (breathed into the lungs), as a vapor.
* Injected as a liquid either: intramuscular, intravenous, intraperitoneal, intraosseous.
* Rectally as a suppository, that is absorbed by the colon.
* Vaginally as a suppository, primarily to treat vaginal infections.
* Bolus, a substance into the stomach to dissolve slowly.
* Insufflation, or snorted into the nose.

Many drugs can be administered in a variety of ways.

Recreation
The cigarette is the common pharmaceutical form of tobacco – one of the world’s best selling drugs.[8]
Cannabis is another commonly used recreational drug.[9]
Main article: Recreational drug use
Further information: Prohibition (drugs)

Recreational drugs use is the use of psychoactive substances to have fun, for the experience, or to enhance an already positive experience. National laws prohibit the use of many different recreational drugs and medicinal drugs that have the potential for recreational use are heavily regulated. Many other recreational drugs on the other hand are legal, widely culturally accepted, and at the most have an age restriction on using and/or purchasing them. These include alcohol, tobacco, betel nut, and caffeine products.

Spiritual and religious use
Main article: Entheogen

The spiritual and religious use of drugs has been occurring since the dawn of our species. Drugs that are considered to have spiritual or religious use are called entheogens. Some religions are based completely on the use of certain drugs. Entheogens are mostly hallucinogens, being either psychedelics or deliriants, but some are also stimulants and sedatives.

Nootropics
Main article: Nootropic

Nootropics, also commonly referred to as "smart drugs", are drugs that are claimed to improve human cognitive abilities. Nootropics are used to improve memory, concentration, thought, mood, learning, and many others things. Some nootropics are now beginning to be used to treat certain diseases such as attention-deficit hyperactivity disorder, Parkinson's disease, and Alzheimer's disease. They are also commonly used to regain brain function lost during aging.

Legal definition of drugs

Some governments define the term drug by law. In the United States, the Federal Food, Drug, and Cosmetic Act definition of "drug" includes "articles intended for use in the diagnosis, cure, mitigation, treatment, or prevention of disease in man or other animals" and "articles (other than food) intended to affect the structure or any function of the body of man or other animals."[10] Consistent with that definition, the U.S. separately defines narcotic drugs and controlled substances, which may include non-drugs, and explicitly excludes tobacco, caffeine and alcoholic beverages.[11]

Governmental controls

In Canada the government has moved to remove the influence of drug companies on the medical system. The influence that the pharmaceutical companies, the for-profits, are having on every aspect of medicine ... is so blatant now you'd have to be deaf, blind and dumb not to see it, said Journal of the American Medical Association editor Dr. Catherine DeAngelis.[12]

Etymology

Drug is thought to originate from Old French "drogue", possibly deriving later into "droge-vate" from Middle Dutch meaning "dry barrels", referring to medicinal plants preserved in them.[13]

medicine

Medicine
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
For chemical substances, see Medication. For other uses, see Medicine (disambiguation).
The ancient Greek symbol today associated with medicine the world over: the rod of Asclepius with its encoiled serpent. The World Health Organization, the Royal Society of Medicine, the American Medical and Osteopathic Associations, the British and the Australian Medical Associations are some of the bodies that incorporate it in their insignia

Medicine is the art and science of healing. It encompasses a range of health care practices evolved to maintain and restore health by the prevention and treatment of illness.

Contemporary medicine applies health science, biomedical research, and medical technology to diagnose and treat injury and disease, typically through medication, surgery, or some other form of therapy. The word medicine is derived from the Latin ars medicina, meaning the art of healing.[1][2]

Though medical technology and clinical expertise are pivotal to contemporary medicine, successful face-to-face relief of actual suffering continues to require the application of ordinary human feeling and compassion, known in English as bedside manner.[3]

History
Main article: History of medicine
The ancient Sumerian god Ningishzida, the patron of medicine, accompanied by two gryphons.

Prehistoric medicine incorporated plants (herbalism), animal parts and minerals. In many cases these materials were used ritually as magical substances by priests, shamans, or medicine men. Well-known spiritual systems include animism (the notion of inanimate objects having spirits), spiritualism (an appeal to gods or communion with ancestor spirits); shamanism (the vesting of an individual with mystic powers); and divination (magically obtaining the truth). The field of medical anthropology studies the various prehistoric medical systems and their interaction with society.

Early records on medicine have been discovered from early Ayurvedic medicine in the Indian subcontinent, ancient Egyptian medicine, traditional Chinese medicine and ancient Greek medicine. Early Greek doctor Hippocrates, who is also called the Father of Medicine,[4][5] and Galen laid a foundation for later developments in a rational approach to medicine. After the fall of Rome and the onset of the Dark Ages in Western Europe, the Greek tradition of medicine went into decline. After 750, the Muslim Arab world had Galen and Aristotle's works translated into Arabic, and Islamic physicians engaged in some significant medical research. Notable Islamic medical pioneers include polymath Avicenna, who, along with Hippocrates, has also been called the Father of Medicine,[6][7] Abulcasis, the father of surgery, Avenzoar, the father of experimental surgery, Ibn al-Nafis, the father of circulatory physiology, and Averroes.[8] Rhazes, who is called the father of pediatrics, was one of first to question the Greek theory of humorism, which nevertheless remained influential in both medieval Western and medieval Islamic medicine [9] During the Crusades, one Muslim observer famously expressed a dim view of contemporary Western medicine. [10] However, overall mortality and mordibity levels in the medieval Middle East and medieval Europe did not significantly differ one from the other, which indicates that there was no major medical "breakthrough" to modern medicine in either region in this period. The fourteenth and fifteenth Black Death was just as devastating to the Middle East as to Europe, and it has even been argued that Western Europe was generally more effective in recovering from the pandemic than the Midddle East. [11] As the medieval ages ended, important early figures in medicine emerged in Europe, including Gabriele Falloppio and William Harvey.
An ancient Greek patient gets medical treatment: this aryballos (circa 480-470 BCE, now in Paris's Louvre Museum, probably contained healing oil

The major shift in medical thinking was the gradual rejection, especially during the Black Death in the 14th and 15th centuries, of what may be called the 'traditional authority' approach to science and medicine. This was the notion that because some prominent person in the past said something must be so, then that was the way it was, and anything one observed to the contrary was an anomaly (which was paralleled by a similar shift in European society in general - see Copernicus's rejection of Ptolemy's theories on astronomy). Physicians like Ibn al-Nafis and Vesalius led the way in improving upon or indeed rejecting the theories of great authorities from the past (such as Hippocrates, and Galen), many of whose theories were in time discredited.

Modern scientific biomedical research (where results are testable and reproducible) began to replace early Western traditions based on herbalism, the Greek "four humours" and other such pre-modern notions. The modern era really began with Robert Koch's discoveries around 1880 of the transmission of disease by bacteria, and then the discovery of antibiotics around 1900. The post-18th century modernity period brought more groundbreaking researchers from Europe. From Germany and Austrian doctors such as Rudolf Virchow, Wilhelm Conrad Röntgen, Karl Landsteiner, and Otto Loewi) made contributions. In the United Kingdom Alexander Fleming, Joseph Lister, Francis Crick, and Florence Nightingale are considered important. From New Zealand and Australia came Maurice Wilkins, Howard Florey, and Frank Macfarlane Burnet). In the United States William Williams Keen, Harvey Cushing, William Coley, James D. Watson, Italy (Salvador Luria), Switzerland (Alexandre Yersin), Japan (Kitasato Shibasaburo), and France (Jean-Martin Charcot, Claude Bernard, Paul Broca and others did significant work. Russian (Nikolai Korotkov also did significant work, as did Sir William Osler and Harvey Cushing.
The Persian philosopher Avicenna, sometimes called the Father of Medicine. His Canon of Medicine, written during the Islamic Golden Age, probed the nature of contagious disease, identified anaesthetics and medicinal drugs, introduced quarantine and experimental medicine, and even the idea of clinical trials

As science and technology developed, medicine became more reliant upon medications. Pharmacology developed from herbalism and many drugs are still derived from plants (atropine, ephedrine, warfarin, aspirin, digoxin, vinca alkaloids, taxol, hyoscine, etc). The first of these was arsphenamine / Salvarsan discovered by Paul Ehrlich in 1908 after he observed that bacteria took up toxic dyes that human cells did not. Vaccines were discovered by Edward Jenner and Louis Pasteur. The first major class of antibiotics was the sulfa drugs, derived by French chemists originally from azo dyes. This has become increasingly sophisticated; modern biotechnology allows drugs targeted towards specific physiological processes to be developed, sometimes designed for compatibility with the body to reduce side-effects. Genomics and knowledge of human genetics is having some influence on medicine, as the causative genes of most monogenic genetic disorders have now been identified, and the development of techniques in molecular biology and genetics are influencing medical technology, practice and decision-making.

Evidence-based medicine is a contemporary movement to establish the most effective algorithms of practice (ways of doing things) through the use of systematic reviews and meta-analysis. The movement is facilitated by the modern global information science, which allows all evidence to be collected and analyzed according to standard protocols which are then disseminated to healthcare providers. One problem with this 'best practice' approach is that it could be seen to stifle novel approaches to treatment. The Cochrane Collaboration leads this movement. A 2001 review of 160 Cochrane systematic reviews revealed that, according to two readers, 21.3% of the reviews concluded insufficient evidence, 20% concluded evidence of no effect, and 22.5% concluded positive effect.[12]

[edit] Clinical practice
Girl having her head bandaged, as depicted by the portraitist Henriette Browne (1829-1901)

In clinical practice doctors personally assess patients in order to diagnose, treat, and prevent disease using clinical judgment. The doctor-patient relationship typically begins an interaction with an examination of the patient's medical history and medical record, followed a medical interview[13] and a physical examination. Basic diagnostic medical devices (e.g. stethoscope, tongue depressor) are typically used. After examination for signs and interviewing for symptoms, the doctor may order medical tests (e.g. blood tests), take a biopsy, or prescribe pharmaceutical drugs or other therapies. Differential diagnosis methods help to rule out conditions based on the information provided. During the encounter, properly informing the patient of all relevant facts is an important part of the relationship and the development of trust. The medical encounter is then documented in the medical record, which is a legal document in many jurisdictions.[14] Followups may be shorter but follow the same general procedure.

The components of the medical interview[13] and encounter are:

* Chief complaint (cc): the reason for the current medical visit. These are the 'symptoms.' They are in the patient's own words and are recorded along with the duration of each one. Also called 'presenting complaint.'
* History of present illness / complaint (HPI): the chronological order of events of symptoms and further clarification of each symptom.
* Current activity: occupation, hobbies, what the patient actually does.
* Medications (Rx): what drugs the patient takes including prescribed, over-the-counter, and home remedies, as well as alternative and herbal medicines/herbal remedies. Allergies are also recorded.
* Past medical history (PMH/PMHx): concurrent medical problems, past hospitalizations and operations, injuries, past infectious diseases and/or vaccinations, history of known allergies.
* Social history (SH): birthplace, residences, marital history, social and economic status, habits (including diet, medications, tobacco, alcohol).
* Family history (FH): listing of diseases in the family that may impact the patient. A family tree is sometimes used.

* Review of systems (ROS) or systems inquiry: a set of additional questions to ask which may be missed on HPI: a general enquiry (have you noticed any weight loss, change in sleep quality, fevers, lumps and bumps? etc), followed by questions on the body's main organ systems (heart, lungs, digestive tract, urinary tract, etc).

The physical examination is the examination of the patient looking for signs of disease ('Symptoms' are what the patient volunteers, 'Signs' are what the healthcare provider detects by examination). The healthcare provider uses the senses of sight, hearing, touch, and sometimes smell (taste has been made redundant by the availability of modern lab tests). Four chief methods are used: inspection, palpation (feel), percussion (tap to determine resonance characteristics), and auscultation (listen); smelling may be useful (e.g. infection, uremia, diabetic ketoacidosis). The clinical examination involves study of:

* Vital signs including height, weight, body temperature, blood pressure, pulse, respiration rate, hemoglobin oxygen saturation
* General appearance of the patient and specific indicators of disease (nutritional status, presence of jaundice, pallor or clubbing)
* Skin
* Head, eye, ear, nose, and throat (HEENT)
* Cardiovascular (heart and blood vessels)
* Respiratory (large airways and lungs)
* Abdomen and rectum
* Genitalia (and pregnancy if the patient is or could be pregnant)
* Musculoskeletal (including spine and extremities)
* Neurological (consciousness, awareness, brain, vision, cranial nerves, spinal cord and peripheral nerves)
* Psychiatric (orientation, mental state, evidence of abnormal perception or thought)

Laboratory and imaging studies results may be obtained, if necessary.

The medical decision-making (MDM) process involves analysis and synthesis of all the above data to come up with a list of possible diagnoses (the differential diagnoses), along with an idea of what needs to be done to obtain a definitive diagnosis that would explain the patient's problem.

The treatment plan may include ordering additional laboratory tests and studies, starting therapy, referral to a specialist, or watchful observation. Follow-up may be advised.

This process is used by primary care providers as well as specialists. It may take only a few minutes if the problem is simple and straightforward. On the other hand, it may take weeks in a patient who has been hospitalized with bizarre symptoms or multi-system problems, with involvement by several specialists.

On subsequent visits, the process may be repeated in an abbreviated manner to obtain any new history, symptoms, physical findings, and lab or imaging results or specialist consultations.

[edit] Institutions

Contemporary medicine is in general conducted within health care systems. Legal, credentialing and financing frameworks are established by individual governments, augmented on occasion by international organizations. The characteristics of any given health care system have significant impact on the way medical care is provided.

Advanced industrial countries (with the exception of the United States) [15][16] and many developing countries provide medical services though a system of universal health care which aims to guarantee care for all through a single-payer health care system, or compulsory private or co-operative health insurance. This is intended to ensure that the entire population has access to medical care on the basis of need rather than ability to pay. Delivery may be via private medical practices or by state-owned hospitals and clinics, or by charities; most commonly by a combination of all three.

Most tribal societies, but also some communist countries (e.g. China) and the United States,[15][16] provide no guarantee of health care for the population as a whole. In such societies, health care is available to those that can afford to pay for it or have self insured it (either directly or as part of an employment contract) or who may be covered by care financed by the government or tribe directly.
Modern drug ampoules

Transparency of information is another factor defining a delivery system. Access to information on conditions, treatments, quality and pricing greatly affects the choice by patients / consumers and therefore the incentives of medical professionals. While the US health care system has come under fire for lack of openness,[17] new legislation may encourage greater openness. There is a perceived tension between the need for transparency on the one hand and such issues as patient confidentiality and the possible exploitation of information for commercial gain on the other.

[edit] Delivery
See also: clinic, hospital, and hospice

Provision of medical care is classified into primary, secondary and tertiary care categories.

Primary care medical services are provided by physicians, physician assistants, or other health professionals who have first contact with a patient seeking medical treatment or care. These occur in physician offices, clinics, nursing homes, schools, home visits and other places close to patients. About 90% of medical visits can be treated by the primary care provider. These include treatment of acute and chronic illnesses, preventive care and health education for all ages and both sexes.

Secondary care medical services are provided by medical specialists in their offices or clinics or at local community hospitals for a patient referred by a primary care provider who first diagnosed or treated the patient. Referrals are made for those patients who required the expertise or procedures performed by specialists. These include both ambulatory care and inpatient services, emergency rooms, intensive care medicine, surgery services, physical therapy, labor and delivery, endoscopy units, diagnostic laboratory and medical imaging services, hospice centers, etc. Some primary care providers may also take care of hospitalized patients and deliver babies in a secondary care setting.

Tertiary care medical services are provided by specialist hospitals or regional centers equipped with diagnostic and treatment facilities not generally available at local hospitals. These include trauma centers, burn treatment centers, advanced neonatology unit services, organ transplants, high-risk pregnancy, radiation oncology, etc.

Modern medical care also depends on information - still delivered in many health care settings on paper records, but increasingly nowadays by electronic means.

[edit] Branches

Working together as an interdisciplinary team, many highly-trained health professionals besides medical practitioners are involved in the delivery of modern health care. Examples include: nurses, emergency medical technicians and paramedics, laboratory scientists, (pharmacy, pharmacists), (physiotherapy,physiotherapists), respiratory therapists, speech therapists, occupational therapists, radiographers, dietitians and bioengineers.

The scope and sciences underpinning human medicine overlap many other fields. Dentistry, while a separate discipline from medicine, is considered a medical field.

A patient admitted to hospital is usually under the care of a specific team based on their main presenting problem, e.g. the Cardiology team, who then may interact with other specialties, e.g. surgical, radiology, to help diagnose or treat the main problem or any subsequent complications / developments.

Physicians have many specializations and subspecializations into certain branches of medicine, which are listed below. There are variations from country to country regarding which specialties certain subspecialties are in.

The main branches of medicine used in Wikipedia are:

* Basic sciences of medicine; this is what every physician is educated in, and some return to in biomedical research.
* Medical specialties
* interdisciplinary fields, where different medical specialties are mixed to function in certain occasions.

[edit] Basic sciences

* Anatomy is the study of the physical structure of organisms. In contrast to macroscopic or gross anatomy, cytology and histology are concerned with microscopic structures.
* Biochemistry is the study of the chemistry taking place in living organisms, especially the structure and function of their chemical components.
* Biostatistics is the application of statistics to biological fields in the broadest sense. A knowledge of biostatistics is essential in the planning, evaluation, and interpretation of medical research. It is also fundamental to epidemiology and evidence-based medicine.
* Cytology is the microscopic study of individual cells.
* Embryology is the study of the early development of organisms.
* Epidemiology is the study of the demographics of disease processes, and includes, but is not limited to, the study of epidemics.
* Genetics is the study of genes, and their role in biological inheritance.
* Histology is the study of the structures of biological tissues by light microscopy, electron microscopy and immunohistochemistry.
* Immunology is the study of the immune system, which includes the innate and adaptive immune system in humans, for example.
* Medical physics is the study of the applications of physics principles in medicine.
* Microbiology is the study of microorganisms, including protozoa, bacteria, fungi, and viruses.
* Neuroscience includes those disciplines of science that are related to the study of the nervous system. A main focus of neuroscience is the biology and physiology of the human brain and spinal cord.
* Nutrition science (theoretical focus) and dietetics (practical focus) is the study of the relationship of food and drink to health and disease, especially in determining an optimal diet. Medical nutrition therapy is done by dietitians and is prescribed for diabetes, cardiovascular diseases, weight and eating disorders, allergies, malnutrition, and neoplastic diseases.
* Pathology as a science is the study of disease—the causes, course, progression and resolution thereof.
* Pharmacology is the study of drugs and their actions.
* Physiology is the study of the normal functioning of the body and the underlying regulatory mechanisms.
* Toxicology is the study of hazardous effects of drugs and poisons.

[edit] Specialties
Main article: Medical specialty

In the broadest meaning of "medicine", there are many different specialties. However, within medical circles, there are two broad categories: "Medicine" and "Surgery." "Medicine" refers to the practice of non-operative medicine, and most subspecialties in this area require preliminary training in "Internal Medicine". "Surgery" refers to the practice of operative medicine, and most subspecialties in this area require preliminary training in "General Surgery." There are some specialties of medicine that do not fit into either of these categories, such as radiology, pathology, or anesthesia, and those are also discussed further below.

[edit] Surgery
Main article: Surgery

Surgical specialties employ operative treatment. In addition, surgeons must decide when an operation is necessary, and also treat many non-surgical issues, particularly in the surgical intensive care unit (SICU), where a variety of critical issues arise. Surgery has many subspecialties, e.g. general surgery,Transplant surgery, trauma surgery, cardiovascular surgery, neurosurgery, maxillofacial surgery, orthopedic surgery, otolaryngology, plastic surgery, oncologic surgery, vascular surgery, and pediatric surgery. In some centers, anesthesiology is part of the division of surgery (for logistical and planning purposes), although it is not a surgical discipline.

Surgical training in the U.S. requires a minimum of five years of residency after medical school. Sub-specialties of surgery often require seven or more years. In addition, fellowships can last an additional one to three years. Because post-residency fellowships can be competitive, many trainees devote two additional years to research. Thus in some cases surgical training will not finish until more than a decade after medical school. Furthermore, surgical training can be very difficult and time consuming.

[edit] 'Medicine' as a specialty
Main article: Internal Medicine

Internal medicine is the medical specialty concerned with the diagnosis, management and nonsurgical treatment of unusual or serious diseases, either of one particular organ system or of the body as a whole. According to some sources, an emphasis on internal structures is implied.[18] In North America, specialists in internal medicine are commonly called "internists". Elsewhere, especially in Commonwealth nations, such specialists are often called physicians.[19] These terms, internist or physician (in the narrow sense, common outside North America), generally exclude practitioners of gynecology and obstetrics, pathology, psychiatry, and especially surgery and its subspecialities.

Because their patients are often seriously ill or require complex investigations, internists do much of their work in hospitals. Formerly, many internists were not subspecialized; such general physicians would see any complex nonsurgical problem; this style of practice has become much less common. In modern urban practice, most internists are subspecialists: that is, they generally limit their medical practice to problems of one organ system or to one particular area of medical knowledge. For example, gastroenterologists and nephrologists specialize respectively in diseases of the gut and the kidneys.[20]

In Commonwealth and some other countries, specialist pediatricians and geriatricians are also described as specialist physicians (or internists) who have subspecialized by age of patient rather than by organ system. Elsewhere, especially in North America, general pediatrics is often a form of Primary care.

There are many subspecialities (or subdisciplines) of internal medicine:

* Cardiology
* Critical care medicine
* Dermatology
* Endocrinology
* Gastroenterology
* Geriatrics
* Hematology
* Hepatology
* Infectious diseases
* Nephrology
* Neurology
* Oncology
* Pediatrics
* Pulmonology
* Rheumatology
* Sleep medicine

Training in internal medicine (as opposed to surgical training), varies considerably across the world: see the articles on Medical education and Physician for more details. In North America, it requires at least three years of residency training after medical school, which can then be followed by a one to three year fellowship in the subspecialties listed above. In general, resident work hours in medicine are less than those in surgery, averaging about 60 hours per week in the USA.

[edit] Diagnostic specialties

* Clinical laboratory sciences are the clinical diagnostic services which apply laboratory techniques to diagnosis and management of patients. In the United States these services are supervised by a pathologist. The personnel that work in these medical laboratory departments are technically trained staff who do not hold medical degrees, but who usually hold an undergraduate medical technology degree, who actually perform the tests, assays, and procedures needed for providing the specific services. Subspecialties include Transfusion medicine, Cellular pathology, Clinical chemistry, Hematology, Clinical microbiology and Clinical immunology.
* Pathology as a medical specialty is the branch of medicine that deals with the study of diseases and the morphologic, physiologic changes produced by them. As a diagnostic specialty, pathology can be considered the basis of modern scientific medical knowledge and plays a large role in evidence-based medicine. Many modern molecular tests such as flow cytometry, polymerase chain reaction (PCR), immunohistochemistry, cytogenetics, gene rearrangements studies and fluorescent in situ hybridization (FISH) fall within the territory of pathology.
* Radiology is concerned with imaging of the human body, e.g. by x-rays, x-ray computed tomography, ultrasonography, and nuclear magnetic resonance tomography.
* Clinical neurophysiology is concerned with testing the physiology or function of the central and peripheral aspects of the nervous system. These kinds of tests can be divided into recordings of: (1) spontaneous or continuously running electrical activity, or (2) stimulus evoked responses. Subspecialties include Electroencephalography, Electromyography, Evoked potential, Nerve conduction study and Polysomnography. Sometimes these tests are performed by techs without a medical degree, but the interpretation of these tests is done by a medical professional.

[edit] Other

Following are some selected fields of medical specialties that don't directly fit into any of the above mentioned groups.

* Ophthalmology exclusively concerned with the eye and ocular adnexa, combining conservative and surgical therapy.
* Dermatology is concerned with the skin and its diseases. In the UK, dermatology is a subspecialty of general medicine.
* Emergency medicine is concerned with the diagnosis and treatment of acute or life-threatening conditions, including trauma, surgical, medical, pediatric, and psychiatric emergencies.
* Obstetrics and gynecology (often abbreviated as OB/GYN (American English) or Obs & Gynae (British English)) are concerned respectively with childbirth and the female reproductive and associated organs. Reproductive medicine and fertility medicine are generally practiced by gynecological specialists.
* Palliative care is a relatively modern branch of clinical medicine that deals with pain and symptom relief and emotional support in patients with terminal illnesses including cancer and heart failure.
* Pediatrics (AE) or paediatrics (BE) is devoted to the care of infants, children, and adolescents. Like internal medicine, there are many pediatric subspecialties for specific age ranges, organ systems, disease classes, and sites of care delivery.
* Physical medicine and rehabilitation (or physiatry) is concerned with functional improvement after injury, illness, or congenital disorders.
* Psychiatry is the branch of medicine concerned with the bio-psycho-social study of the etiology, diagnosis, treatment and prevention of cognitive, perceptual, emotional and behavioral disorders. Related non-medical fields include psychotherapy and clinical psychology.

[edit] Interdisciplinary fields

Interdisciplinary sub-specialties of medicine are:

* General practice, family practice, family medicine or primary care is, in many countries, the first port-of-call for patients with non-emergency medical problems.
* Many other health science fields, e.g. dietetics
* Bioethics is a field of study which concerns the relationship between biology, science, medicine and ethics, philosophy and theology.
* Biomedical Engineering is a field dealing with the application of engineering principles to medical practice.
* Clinical pharmacology is concerned with how systems of therapeutics interact with patients.
* Conservation medicine studies the relationship between human and animal health, and environmental conditions. Also known as ecological medicine, environmental medicine, or medical geology.
* Dentistry deals with evaluation, diagnosis, prevention, and treatment of diseases, disorders and conditions of the soft and hard tissues of the jaw (mandible), the oral cavity, maxillofacial area and the adjacent and associated structures
* Disaster medicine deals with medical aspects of emergency preparedness, disaster mitigation and management.
* Diving medicine (or hyperbaric medicine) is the prevention and treatment of diving-related problems.
* Evolutionary medicine is a perspective on medicine derived through applying evolutionary theory.
* Forensic medicine deals with medical questions in legal context, such as determination of the time and cause of death.
* Gender-based medicine studies the biological and physiological differences between the human sexes and how that affects differences in disease.
* Hospital medicine is the general medical care of hospitalized patients. Physicians whose primary professional focus is hospital medicine are called hospitalists in the USA.
* Medical humanities includes the humanities (literature, philosophy, ethics, history and religion), social science (anthropology, cultural studies, psychology, sociology), and the arts (literature, theater, film, and visual arts) and their application to medical education and practice.
* Medical informatics, medical computer science, medical information and eHealth are relatively recent fields that deal with the application of computers and information technology to medicine.
* Nosology is the classification of diseases for various purposes.
* Nosokinetics is the science/subject of measuring and modelling the process of care in health and social care systems.
* Pain management (also called pain medicine) is the medical discipline concerned with the relief of pain.
* Preventive medicine is the branch of medicine concerned with preventing disease.
o Community health or public health is an aspect of health services concerned with threats to the overall health of a community based on population health analysis.
o Occupational medicine's principal role is the provision of health advice to organizations and individuals to ensure that the highest standards of health and safety at work can be achieved and maintained.
o Aerospace medicine deals with medical problems related to flying and space travel.
* Osteopathic medicine, a branch of the U.S. medical profession.
* Pharmacogenomics is a form of individualized medicine.
* Sports medicine deals with the treatment and preventive care of athletes, amateur and professional. The team includes specialty physicians and surgeons, athletic trainers, physical therapists, coaches, other personnel, and, of course, the athlete.
* Therapeutics is the field, more commonly referenced in earlier periods of history, of the various remedies that can be used to treat disease and promote health [3].
* Travel medicine or emporiatrics deals with health problems of international travelers or travelers across highly different environments.
* Urgent care focuses on delivery of unscheduled, walk-in care outside of the hospital emergency department for injuries and illnesses that are not severe enough to require care in an emergency department. In some jurisdictions this function is combined with the emergency room.
* Veterinary medicine; veterinarians apply similar techniques as physicians to the care of animals.
* Wilderness medicine; its about practice of medicine in the wild ,where conventional medical facilities may not be available.

[edit] Education
Main articles: Medical education and Medical school
Painted by Toulouse-Lautrec in the year of his own death: an examination in the Paris faculty of medicine, 1901

Medical education and training varies around the world. It typically involves entry level education at a university medical school, followed by a period of supervised practice or internship, and/or residency. This can be followed by postgraduate vocational training. A variety of teaching methods have been employed in medical education, still itself a focus of active research.

Many regulatory authorities require continuing medical education, since knowledge, techniques and medical technology continue to evolve at a rapid rate.

[edit] Legal controls

In most countries, it is a legal requirement for a medical doctor to be licensed or registered. In general, this entails a medical degree from a university and accreditation by a medical board or an equivalent national organization, which may ask the applicant to pass exams. This restricts the considerable legal authority of the medical profession to physicians that are trained and qualified by national standards. It is also intended as an assurance to patients and as a safeguard against charlatans that practice inadequate medicine for personal gain. While the laws generally require medical doctors to be trained in "evidence based", Western, or Hippocratic Medicine, they are not intended to discourage different paradigms of health.

Doctors who are negligent or intentionally harmful in their care of patients can face charges of medical malpractice and be subject to civil, criminal, or professional sanctions.

[edit] Statute of limitations

There is only a limited time during which a medical malpractice lawsuit can be filed. In the USA and Canada, these statute of limitations laws vary between 1 and 4 years (see Medical malpractice for more information).

[edit] Controversy

The Catholic social theorist Ivan Illich subjected contemporary western medicine to detailed attack in his Medical Nemesis, first published in 1975. He argued that the medicalization in recent decades of so many of life's vicissitudes — birth and death, for example — frequently caused more harm than good and rendered many people in effect lifelong patients. He marshalled a body of statistics to show what he considered the shocking extent of post-operative side-effects and drug-induced illness in advanced industrial society. He was the first to introduce to a wider public the notion of iatrogenesis.[21] Others have since voiced similar views, but none so trenchantly, perhaps, as Illich. [22]

Through the course of the twentieth century, healthcare providers focused increasingly on the technology that was enabling them to make dramatic improvements in patients' health. The ensuing development of a more mechanistic, detached practice, with the perception of an attendant loss of patient-focused care, known as the medical model of health, led to criticisms that medicine was neglecting a holistic model.[citation needed] The inability of modern medicine to properly address some common complaints continues to prompt many people to seek support from alternative medicine. Although most alternative approaches lack scientific validation, some, notably acupuncture for some conditions and certain herbs, are backed by evidence.[23]

Medical errors and overmedication are also the focus of complaints and negative coverage. Practitioners of human factors engineering believe that there is much that medicine may usefully gain by emulating concepts in aviation safety, where it is recognized that it is dangerous to place too much responsibility on one "superhuman" individual and expect him or her not to make errors. Reporting systems and checking mechanisms are becoming more common in identifying sources of error and improving practice. Clinical versus statistical, algorithmic diagnostic methods were famously examined in psychiatric practice in a 1954 book by Paul E. Meehl, which controversially found statistical methods superior.[24] A 2000 meta-analysis comparing these methods in both psychology and medicine found that statistical or "mechanical" diagnostic methods were generally, although not always, superior.[24]

Disparities in quality of care given are often an additional cause of controversy.[25] For example, elderly mentally ill patients received poorer care during hospitalization in a 2008 study.[26] Rural poor African-American men were used in a study of syphilis that denied them basic medical care
 

© 2009 Fresh Template. Powered by Blogger. | friend blog: bisnis online

Fresh Template by NdyTeeN